(Artikel saya yang ditulis untuk update free trade IGJ dan dimuat dalam website IGJ di http://www.igj.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=671&Itemid=165)
Asia Menjadi Muara
Krisis
Kebangkitan
ekonomi Asia telah menjadi ‘gula’ yang menarik banyak pihak untuk menghampirinya.
Manisnya ekonomi Asia telah merubah tatanan perekonomian global, khususnya
dalam situasi krisis ekonomi global saat ini. Pertumbuhan China saat ini yang
menjadi kekuatan ekonomi terbesar didunia juga memberikan pengaruh terhadap ekonomi
Asia.
Ditengah-tengah
melesunya pertumbuhan ekonomi dibeberapa negara maju seperti Uni Eropa dan
Amerika Serikat, Asia tetap berdiri tegap dengan tingginya angka pertumbuhan
ekonomi yang semakin meyakinkan banyak pihak bahwa Asia sebagai pusat
perekonomian masa depan. Hal ini kemudian menjadikan Asia sebagai tumpuan
negara maju dalam upaya mengeluarkan dirinya dari krisis ekonomi yang melanda. Padahal ini hanya strategi yang akan menularkan krisis ke
Asia.
Pasar
Asia dianggap memberikan janji surga terhadap pemulihan krisis ekonomi dunia.
Hal ini didasari atas tingginya angka populasi di Asia, khususnya populasi usia
produktif, sehingga akan menjamin ketersediaan tenaga kerja yang produktif dan
kompetitif yang kemudian berdampak terhadap potensi besar kepada permintaan
pasar. Produktifitas yang dihasilkan menjadi alasan rasional untuk semakin
memasifkan agenda investasi diseluruh sektor ekonomi, khususnya yang terkait
dengan infrastruktur, manufaktur dan energi.
Hal
diatas kemudian mendorong sebuah ambisi untuk segera memperluas dan membuka
akses pasar serta investasi yang lebih massif lagi dimana hal-hal tersebut
diyakini sebagai cara efektif untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dunia,
khususnya Uni Eropa dan Amerika Serikat.
|